Air Mata Belanda - Wisata di Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Air Mata Belanda - Wisata di Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Air Mata Belanda merupakan jeram semi vertikal yang terdapat di sebuah sungai di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku UtaraAir Mata Belanda memiliki air yang sangat jernih dan membuat kita betah berlama-lama bermain air di tempat ini. Pemandangan yang indah di Air Mata Belanda, suara arus sungai dan ketengangan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Nama tempat ini cukup unik. Konon ada satu keluarga Belanda yang sedang berpiknik di sekitar sungai yang merupakan tempat Air Mata Belanda yang dikenal saat ini, salah satu diantara mereka tidak sengaja menjatuhkan alat makan dan hendak mengambilnya, malahan terhanyut dan pada akhirnya sekeluarga pun ikut terhanyut karena ingin menolong dan mereka menangis histeris. 

Untuk menuju Air Mata Belanda, Anda harus trekking melewati kawasan hutan hujan tropis dan menuju ke hulu sungai. Titik mulai trekking menuju Air Mata Belanda tidak jauh dari Labuha, yakni berada di belakang kantor DPRD Halmahera Selatan kemudian berjalan sekitar 1 Km melewati padang rumput, dan pada akhirnya menuju ke hulu sungai. Selama trekking, ada baiknya jangan memetik buah cokelat dari pohon yang diikat dengan pita berwarna merah atau kuning karena menurut warga sekitar jika ada yang berani mengambil buahnya maka akan terkena santet.

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate

Wilayah Indonesia bagian timur memang memiliki tempat-tempat wisata alam terbaik yang menakjubkan. Danau Laguna merupakan sebuah danau yang berlokasi di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota TernateProvinsi Maluku Utara. Berjarak sekitar 18 km dari Kota Ternate. Karena danau tersebut berlokasi di Desa Ngade, maka tak heran bahwa banyak orang menamai danau ini Danau Ngade.

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate


Ketika berkunjung, wisatawan akan dimanjakan dengan bentangan panorama danau yang dikelilingi bukit yang hijau, laut yang biru dan gunung yang kokoh. Danau Laguna memiliki air yang tenang yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk budidaya ikan air tawar dan mengambil airnya untuk menyiram kebun. Selain itu, danau cantik ini juga dijadikan sebagai lokasi wisata pemancingan dan tempat berenang bagi wisatawan.



Untuk menuju tempat ini, kita bisa memilih penerbangan dengan tujuan Bandara Babullah, Ternate. Sesampainya di Bandara Babullah, kita bisa menyewa kendaraan untuk menuju Danau Laguna dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.

Dermaga Biru (Pantai Derbi) - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Dermaga Biru (Pantai Derbi) - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Sesuai dengan namanya, Dermaga Biru didominasi dengan cat berwarna biru. Disamping Dermaga Biru terdapat tempat wisata Pantai Derbi. Pantai kecil ini terdapat rumah makan dan cottage. Airnya yang tenang sangat aman untuk anak-anak bermain air. Cocok untuk snorkeling juga karena air laut disini jernih. Dari pantai ini, Anda akan melihat Pulau Halmahera dari jauh. Pantai Derbi adalah salah satu wisata di Pulau BacanHalmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Rumah panggung yang berada di pantai Derbi juga menjadi tempat yang santai untuk duduk dan sambil menyantap cemilan khas Halmahera sambil menikmati keindahan alam. Pantai Derbi (Dermaga Biru) berada di Kecamatan Bacan Timur, jika Anda berangkat dari Kota Labuha ke tempat ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Pantai Derbi ramai dikunjungi oleh penduduk lokal saat libur karena aksesnya bagus dan terawat dengan baik. 

Dermaga Biru (Pantai Derbi) - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Sumber: Foto Henry Wicaksono
Terdapat juga Dermaga Merah yang biasa disebut sebagai Pantai Sibela. Dermaga Merah berada sejajar dengan garis pantai Dermaga Biru, lokasi kedua dermaga dan pantai ini sangat dekat. Sesuai dengan namanya, Dermaga Merah juga didominasi dengan cat warna merah.

Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Gunung Sibela ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam pada tahun 1987 dengan luas 23.024 Ha. Gunung Sibela merupakan salah satu gunung yang tertinggi di Maluku Utara dengan ketinggian 2.118 meter di atas permukaan laut. Cagar Alam Gunung Sibela terletak di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Cagar alam ini juga memiliki banyak sumber/mata air yang tetap mengalir ke beberapa sungai. Cagar alam ini sangat cocok sekali bagi para peneliti ataupun pecinta fotografer Flora dan Fauna. 


Beraneka ragam jenis fauna dapat ditemukan di Cagar Alam Gunung Sibela, seperti: Monyet (Macaca nigra sp.), Burung Nuri Ternate (Lorius garulus), Bayan (Eclectus roratus), Burung Raja (Cicinnurus regius), Kasturi Merah (Eos bornea), Kakatua Alba (Cacatua alba), Chattering Lory Lorius garrulus, Cacatua alba, Moluccan Scrubfowl (Eulipoa wallacei), Perkicit Violet (Eos squamata) dan sebagainya. Beberapa diantaranya populasinya menurun dan terancam punah karena eksploitasi alam. Sedangkan untuk flora yang dapat ditemukan misalnya: Matoa (Pometia pinnata), Gufasa (Vitex cofassus), Samama (Anthocephalus macrophyllus), Anggrek Alam serta adanya Cengkeh Alam yang sudah berumur cukup lama yang ditanam oleh penduduk (Cengkeh Avo).


Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)


Bagi pecinta pendakian gunung maka Gunung Sibela adalah salah satu yang masih misterius hingga saat ini. Belum tercatat siapa orang pertama yang pernah mencapai puncak gunung ini. Ben Dowson adalah salah satu pendaki gunung yang pernah mencoba mendaki puncak gunung Sibela pada tahun 2010. Namun, penduduk setempat juga belum mengetahui akses terbaik untuk mencapai gunung tersebut. Salah satu sisi gunung terdapat tebing yang curam tepat dibawah puncak dan kelihatannya agak mustahil melewati jalur tersebut. Sedangkan, jika dari sisi barat, penduduk desa menceritakan kisah ular rakasa dan setan yang menjaga sebuah danau misterius di kawah itu sendiri. Jadi, saran Ben Dowson kepada yang ingin trekking di daerah ini, sebaiknya memeriksa semua informasi di berbagai desa guna menghindari informasi tidak tepat yang pada akhirnya membuat Anda kesulitan mendaki Gunung Sibela.

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Benteng Barneveld adalah peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Barneveld, Amasing Kota. Dari atas benteng ini, Anda dapat melihat pantai dan perkampungan penduduk serta keindahan panorama lainnya. Selain itu, di benteng ini kita juga bisa melihat meriam berusia ratusan tahun. Benteng Barneveld adalah salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara

Sejarah

Pada tahun 1558 bangsa Portugis datang dan bermukim di Labuha, mereka mendirikan sebuah benteng kecil. Tidak lama benteng ini dibangun, bangsa Spanyol datang berdagang di benteng ini yang kemudian harinya benteng ini justru direbut oleh Spanyol dari Portugis. Tahun 1609 Laksamana Muda Simon Hoen bersama dengan Sultan Ternate menuntut Spanyol agar benteng ini diserahkan kepada mereka. Benteng ini pun segera diserahkan oleh Spanyol. Kemudian benteng ini direnovasi dan diperkuat atas gagasan Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon. Empat bastion kemudian dibangun dan benteng ini dinamai dengan nama Barnaveld.

Ketika dikuasai Belanda pada tahun 1609, benteng ini dipugar dengan kapur dan batu. Di tengah-tengah benteng dibangun sebuah rumah yang kokoh dengan atap dari rumput kering dan ruangan bawah tanah dengan dinding setebal satu kaki. Di sekitar benteng ditemukan batu prasasti besar dengan tulisan Latin dan di bagian kanan batu prasasti tersebut terdapat tanda keluarga Pieter Both, Gubernur Jenderal pertama VOC. Benteng berbentuk segi empat dilengkapi dengan tembok pertahanan yang rendah. Pada tembok pertahanan ini ditempatkan masing-masing sebuah bastion lengkap dengan meriam. Pintu gerbang utama dibangun berbentuk melengkung, menghadap ke arah Sungai Amasing yang konon menjadi pintu masuk ke Teluk Labuha yang menghadap ke Selat Bacan.

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Fort Oldebarneveld te Batjan, Molukken
Benteng ini pernah diperluas dan dilengkapi dengan sebuah sumur dan sebuah tangga dari batu. Kemudian di dalamnya terdapat bangunan-bangunan kolonial lain sebagai pendukung aktivitas dalam benteng tersebut.

Pada waktu ditinggalkan oleh Belanda, benteng ini tidak terurus dan sempat diselimuti oleh semak belukar serta beberapa pohon beringin besar. Namun, saat ini pemerintah daerah setempat telah menata kembali Benteng ini dengan baik.

Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan

Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sultan Bacan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901 yang dirancang oleh arsitek Jerman, Hoennig von Hendrik pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek. Di belakang mesjid terdapat mata air suci yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan menjadikan daya tarik bagi Anda yang berkunjung di tempat ini. Mesjid Sultan Bacan merupakan salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Mesjid ini berdekatan dengan Keraton Sultan Bacan, yakni sekitar 100m yang berada di Amasing Kota, Kecamatan Bacan. 

Mesjid ini berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Mesjid ini memiliki 17 pintu masuk. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang memiliki diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno para ulama dari Malaka, keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan. Masjid Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi dekat masjid dari tiga arah jalan masuk ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut.


Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan
Sumber: Foto Lensa Lipu
Pada jaman dahulu, mesjid ini tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah, namun aktivitas roda pemerintahan juga di mesjid ini. Sultan dan para Ketua Adat biasanya menggelar pertemuan di teras mesjid untuk membahas masalah Kenegaraan.

Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan

Keraton Sultan Bacan adalah salah satu Wisata Sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Keraton ini beratap hijau yang khas kolonial menjadi bangunan terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Salah satu alasan yang menarik wisatawan untuk mengunjungi keraton ini adalah untuk melihat benda bersejarah. 

Jika Anda beruntung, maka Anda memiliki kesempatan untuk melihat mahkota Sultan Bacan yang disebut Lakare. Lakare terbuat dari bahan Kain Beludru yang tidak pernah usang, lakare tersebut juga diperindah batu-batu mulia yang asli. Lakare, payung kebesaran dan keris yang bisa Anda lihat saat Sultan Bacan berada di kediamannya. Keraton Sultan Bacan berada di Jalan Oesman Syah, kelurahan Amasing Kota, kecamatan Bacan. 

Sejarah

Menurut Hikayat Bacan, yang dipublikasikan pada tahun 1923 oleh W. Ph. Coolhaas dalam Tijdschrift van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap (jilid LXIII, penerbitan kedua), disebutkan bahwa pada zaman dahulu, pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menyatu dalam satu semenanjung, yang dinamakan Tanah Gapi. Kemudian datanglah seorang saudagar sekaligus pendakwah dari Jazirah Arab yang bernama Jafar Sadek ke Tanah Gapi. Jafar Sadek mempunyai empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Ketika anak-anaknya telah menginjak dewasa, Jafar Sadek berdoa kepada Allah SWT agar anak-anaknya kelak dijadikan raja di tempat yang berlainan, dan setelah itu terdengar guntur, kilat, hujan dan angin ribut di malam yang gelap gulita. Akibatnya, Tanah Gapi terpecah menjadi pulau-pulau. Anak lelaki pertama, Buka, kemudian bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal Kerajaan Bacan. Anak lelaki kedua, Darajat, bertolak ke Moti dan menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Anak lelaki ketiga, Sahajat, pergi ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore. Anak lelaki keempat, Mashur Malamo, berlayar ke Ternate dan menjadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedangkan keempat anak perempuannya pergi ke Banggai dan bermukim di sana. Kesultanan Bacan merupakan salah satu dari empat Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang ada di Maluku Utara.

Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta karena ancaman gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang Makian yang ikut dalam evakuasi bersama rajanya. Diperkirakan, Kerajaan Bacan didirikan pada tahun 1322. 

Raja pertama Bacan adalah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di Gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertahta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik. Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertahta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar Pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.

Sida Hasan naik tahta menggantikan ayahnya Muhammad Hasan pada tahun 1343. Pada masa Sida Hasan inilah terjadi evakuasi ke Bacan. Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau dan Imbu-imbu. Raja yang berkuasa pada tahun 1522 adalah Zainal Abidin. 

Bacan, dalam bahasa setempat artinya "membaca" memiiliki makna "usaha sadar seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan". Kesultanan Bacan memiliki peranan penting pada saat itu sebagai pemasok bahan-bahan pangan untuk seluruh wilayah Maluku Utara. Pada masa kejayaannya dulu, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan tergolong cukup luas, yaitu dari sebagian daerah di Sulawesi bagian utara, Filipina bagian selatan hingga ke wilayah Papua sebelah barat. Tidak hanya itu, Pulau Bacan yang menjadi pusat Kesultanan Bacan yang memiliki kekayaan hasil alam bahkan diminati dunia internasional pada waktu itu berupa rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. 


Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan
Foto Istana Sultan Bacan (tahun 1924)
Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali dengan kedatangan bangsa Portugis untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasar Eropa waktu itu. Bermula dari inilah akhirnya Pulau Bacan secara silih berganti menjadi koloni sejumlah negara dari Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda. Perebutan monopoli akan rempah-rempah tersebut, pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem ke pemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda.

Sumber: Kekunaan